Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

8 Hadits Tentang Tahlilan Orang Meninggal

Daftar Isi [Tampil]

Mustafalan.com - Hadits tentang tahlilan. Dalam agama Islam, ketika orang meninggal dunia biasanya kerabat yang masih hidup menyelenggarkan tahlilan. Tujuannya ialah mendoakan supaya almarhum diringankan bebannya di alam kubur, dihapuskan dosanya, dan ditempatkan di sisi terbaik-Nya.

hadits tentang tahlilan

Tahlilan, biasanya diiringi dengan pembacaan surat yasin maupun doa-doa dan dzikir lainnya. Kadang, tahlilan juga diiringi ceramah singkat dari ustadz, dan setelah selesai biasanya ada acara makan-makan besar maupun kecil.

Namun mungkin masih ada yang berpendapat bahwa tahlilan bukan syariat Islam, ada yang masih tidak memperbolehkannya dengan alasan tidak ada dalam hadits dan dalil shahih maupun ayat Al-Quran. Sebenarnya, ini dapat kita pahami salah satunya melalui hadits yang shahih.

Untuk itu di sini kami ingin membagikan kumpulan daftar hadits dan dalil shahih tentang tahlilan. Anda bisa menyimak ulasan lengkapnya pada pembahasan di bawah berikut ini, silahkan simak ulasan lengkapnya di bawah.

Kumpulan Hadits Tentang Tahlilan

Di bawah ini langsung saja silahkan simak ulasan lengkap mengenai hadits dan bacaan lafadz tentang tahlilan dalam agama Islam boleh atau dilarang. Simak ulasan lengkapnya dalam bahasa Arab, latin, beserta artinya sesuai sunnah.

1. Ritual Tahlilan

” كنا نعد(وفى رواية نرى) الاجتماع الى اهل الميت وصنيعة الطعام بعد دفنه من النياحة”.

“Dahulu kami menganggap berkumpul kepada keluarga kematian dan membuat makanan setelah dikuburkan adalah termasuk meratap” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah dan dishahihkan oleh An Nawawi dalam Al Majmu‘ (5/320) dan Al Bushiri dalam Zawaid-nya).

Imam An Nawawi berkata dalam Al Majmu’ (5/306):

واما الجلوس للتعزية فنص الشافعى والمصنف (أى الشيرازى) وسائر الاصحاب على كراهته قالوا يعنى بالجلوس لها أن يجتمع أهل الميت فى يبت فيقصدهم من أراد التعزية  قالوا بل ينبغى ان ينصرفوا فى حوائجهم فمن صادفهم عزاهم ولافرق بين الرجال والنساء فى كراهة الجلوس لها”

“Adapun duduk untuk ta’ziyah maka Imam Asy Syafii, Asy Syairozi, dan seluruh ashab menyatakan karohahnya.
Mereka berkata: Yang dimaksud dengan duduk untuk ta’ziyah adalah berkumpulnya keluarga kematian lalu orang yang bertakziyah bermaksud kepada mereka. Mereka berkata: Hendaklah mereka pergi masing masing dengan kebutuhannya. Siapa yang kebetulan bertemu mereka, silahkan ia bertakziyah. Tidak ada bedanya baik wanita maupun laki laki. Ini adalah pernyataan imam Nawawi bahwa pendapat imam Syafii dan seluruh ashab madzhab syafii menyatakan makruhnya, dan yang dimaksud makruh di sini adalah makruh tahrim“.

2. Tahlilan dalam Islam

عَنِ الْأَحْنَفِ بْنِ قَيْسٍ قَالَ كُنْتُ أَسْمَعُ عُمَرَ رضي الله عنه يَقُوْلُ لاَ يَدْخُلُ أَحَدٌ مِنْ قُرَيْشٍ فِيْ بَابٍ إِلَّا دَخَلَ مَعَهُ نَاسٌ فَلاَ أَدْرِيْ مَا تَأْوِيْلُ قَوْلِهِ حَتَّى طُعِنَ عُمَرُ رضي الله عنه فَأَمَرَ صُهَيْبًا رضي الله عنه أَنْ يُصَلِّيَ بِالنَّاسِ ثَلاَثًا وَأَمَرَ أَنْ يُجْعَلَ لِلنَّاسِ طَعَاماً فَلَمَّا رَجَعُوْا مِنَ الْجَنَازَةِ جَاؤُوْا وَقَدْ وُضِعَتِ الْمَوَائِدُ فَأَمْسَكَ النَّاسُ عَنْهَا لِلْحُزْنِ الَّذِيْ هُمْ فِيْهِ. (المطالب العالية، 5/328).

“Dari Ahnaf bin Qais, berkata: “Aku mendengar Umar berkata: “Seseorang dari kaum Quraisy tidak memasuki satu pintu, kecuali orang-orang akan masuk bersamanya”. Aku tidak mengerti maksud perkataan beliau, sampai akhirnya Umar ditusuk, lalu memerintahkan Shuhaib menjadi imam sholat selama tiga hari dan memerintahkan menyediakan makanan bagi manusia. Setelah mereka pulang dari jenazah Umar, mereka datang, sedangkan hidangan makanan telah disiapkan. Lalu mereka tidak jadi makan, karena duka cita yang menyelimuti” (Al-Hafizh Ibnu Hajar, al-Mathalib al-‘Aliyah, juz 5 hal. 328).

عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهَا كَانَتْ إِذَا مَاتَ الْمَيِّتُ مِنْ أَهْلِهَا فَاجْتَمَعَ لِذَلِكَ النِّسَاءُ ثُمَّ تَفَرَّقْنَ إِلاَّ أَهْلَهَا وَخَاصَّتَهَا أَمَرَتْ بِبُرْمَةٍ مِنْ تَلْبِيْنَةٍ فَطُبِخَتْ ثُمَّ صُنِعَ ثَرِيْدٌ فَصُبَّتْ التَّلْبِيْنَةُ عَلَيْهَا ثُمَّ قَالَتْ كُلْنَ مِنْهَا فَإِنِّيْ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ اَلتَّلْبِيْنَةُ مُجِمَّةٌ لِفُؤَادِ الْمَرِيْضِ تُذْهِبُ بَعْضَ الْحُزْنِ. رواه مسلم

“Dari Urwah, dari Aisyah, istri Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, bahwa apabila seseorang dari keluarga Aisyah meninggal, lalu orang-orang perempuan berkumpul untuk berta’ziyah, kemudian mereka berpisah kecuali keluarga dan orang-orang dekatnya, maka Aisyah menyuruh dibuatkan talbinah (sop atau kuah dari tepung dicampur madu) seperiuk kecil, lalu dimasak. Kemudian dibuatkan bubur. Lalu sop tersebut dituangkan ke bubur itu. Kemudian Aisyah berkata: “Makanlah kalian, karena aku mendengar RasulullahShallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Talbinah dapat menenangkan hari orang yang sedang sakit dan menghilangkan sebagian kesusahan” (HR. Muslim [2216]).

فيه دليل على شرعية إيناس أهل الميت بصنع الطعام لهم لما هم فيه من الشغل بالموت

“Padanya terdapat dalil disyariatkannya menghibur keluarga mayat, karena disibukkan oleh kematian” (Subulussalam, 2/237).

3. Larangan Tahlilan

يَجُوْزُ مِنْهُ مَا جَرَتْ بِهِ الْعَادَةُ عِنْدَ الْإِماَمِ مَالِكٍ كَالْجُمَعِ وَنَحْوِهَا وَفِيْهِ فُسْحَةٌ كَمَا قَالَهُ الْعَلاَّمَةُ الْمُرْصِفِيُّ فِيْ رِسَالَةٍ لَهُ.

“Hidangan kematian yang telah berlaku menjadi tradisi seperti tradisi Juma’ dan sesamanya adalah boleh menurut Imam Malik. Pandangan ini mengandung keringanan sebagaimana dikatakan oleh al-Allamah al-Murshifi dalam risalahnya.” (Syaikh Abdullah al-Jurdani, Fath al-‘Allam Syarh Mursyid al-Anam, juz 3 hal. 218).

Al-Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dalam kitab az-Zuhd:

عَنْ سُفْيَانَ قَالَ قَالَ طَاوُوْسُ إِنَّ الْمَوْتَى يُفْتَنُوْنَ فِيْ قُبُوْرِهِمْ سَبْعاً فَكَانُوْا يَسْتَحِبُّوْنَ أَنْ يُطْعَمَ عَنْهُمْ تِلْكَ الْأَياَّمَ

“Dari Sufyan berkata: Thawus berkata: “Sesungguhnya orang yang mati akan diuji di dalam kubur selama tujuh hari, karena itu mereka (kaum salaf) menganjurkan sedekah makanan selama hari-hari tersebut.”

استغفروا لأخيكم وسلوا له التثبيت فإنه الان يسأل

“Mohonkan ampun untuk saudara kalian ini, mintalah untuknya kekuatan, karena sekarang ia sedang ditanya” (HR Abu Dawud).

Kesimpulan
Sekian pembahasan singkat mengenai hadits tentang tahlilan, tahlilan menurut islam, tahlilan orang meninggal, hukum tahlilan menurut ahlussunnah wal jamaah, tahlilan adalah, tahlilan bid'ah, bacaan tahlilan, apa itu tahlilan, pandangan 4 mazhab tentang tahlil.

Baca:

Posting Komentar untuk "8 Hadits Tentang Tahlilan Orang Meninggal"