Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Kisah Cinta Bidadari Surga dan Manusia Bumi

Daftar Isi [Tampil]

Mustafalan.com - Kisah cinta dengan bidadari surga. Sama seperti malaikat, sama seperti jin, bahkan sama seperti manusia, bidadari surga adalah makhluk yang hidup. Mereka bukan robot yang hanya bisa diperintah, melainkan memiliki hati untuk menentukan sikap.

kisah cinta bidadari surga

Tak jarang bidadari surga jatuh cinta kepada muslim yang bahkan masih ada di muka bumi. Di luar sana, ada pula banyak kisah cinta yang menceritakan hubungan antara bidadari surga dengan laki-laki yang masih tinggal di dunia.

Meski kisah cinta tersebut hanya fiktif, dan sebenarnya manusia belum dapat melihat bidadari surga, kecuali jika sudah berada di akhirat, namun kisah cinta antara manusia dengan bidadari surga kerap menjad perhatian tersendiri. Oleh karenanya pada kesempatan ini kami akan membagikan salah satu kisah cinta bidadari surga.

Kisah Cinta Manusia dengan Bidadari Surga

Abdul Wahid bin Zaid berkata, “Ketika kami tengah duduk-duduk di majelis kami, saya pun udah siap dengan pakaian perangku, dikarenakan ada komando untuk bersiap-siap sejak Senin pagi. Kemudian saja ada seorang laki-laki membaca ayat, (artinya) ‘Sesungguhnya Allah membeli berasal dari orang-orang mukmin jiwa dan harta mereka dengan berikan Surga.’ (At-Taubah: 111). Aku menyambut, “Ya, kekasihku.”

Laki-laki itu berkata, “Aku bersaksi kepadamu wahai Abdul Wahid, sesungguhnya saya udah menjajakan jiwa dan hartaku dengan harapan saya mendapatkan Surga.”

Aku menjawab, “Sesungguhnya ketajaman pedang itu melebihi segala-galanya. Dan engkau sajalah orang yang saya sukai, saya cemas manakala engkau tidak bisa bersabar dan tidak mendapatkan keuntungan berasal dari perdagangan ini.”

Laki-laki itu berkata, “Wahai Abdul Wahid, saya udah berjual membeli kepada Allah dengan harapan mendapat Surga, mana barangkali menjual membeli yang saya persaksikan kepadamu itu akan melemah.” Dia berkata, “Nampaknya saya memprihatinkan kemampuan kami semua, …kalau orang kesayanganku saja bisa berbuat, apakah kami tidak?” Kemudian Laki-laki itu menginfakkan seluruh hartanya di jalur Allah jikalau seekor kuda, senjata dan hanya bekal untuk perang. Ketika kami udah berada di medan perang dialah laki-laki pertama kali yang tiba di tempat tersebut. Dia berkata, “Assalamu ’alaika wahai Abdul Wahid,” Aku menjawab, “Wa’alaikumussalam warahmatullah wa barakatuh, alangkah beruntungnya perniagaan ini.”

Kemudian kami berangkat menuju medan perang, Laki-laki selanjutnya tetap berpuasa di siang hari dan qiyamullail pada malam harinya melayani kami dan menggembalakan hewan ternak kami serta merawat kami kala kami tidur, hingga kami tiba di wilayah Romawi.

Ketika kami tengah duduk-duduk pada suatu hari, tiba-tiba dia mampir sambil berkata, “Betapa rindunya saya kepada bidadari bermata jeli.” Kawan-kawanku berkata, “Sepertinya laki-laki itu udah merasa linglung.” Dia mendekati kami lalu berkata, “Wahai Abdul Wahid, saya udah tidak sabar lagi, saya amat rindu pada bidadari bermata jeli.” Aku bertanya, “Wahai saudaraku, siapa yang anda maksud dengan bidadari bermata jeli itu.” Laki-laki itu menjawab, “Ketika itu saya tengah tidur, tiba-tiba saya bermimpi ada seseorang mampir menemuiku, dia berkata, ‘Pergilah anda menemui bidadari bermata jeli.’ Seseorang di dalam mimpiku itu mendorongku untuk menuju sebuah taman di pinggir sebuah sungai yang berair jernih. Di taman itu ada sebagian pelayan cantik kenakan perhiasan amat indah sampai-sampai saya tidak bisa mengungkapkan keindahannya.

Ketika para pelayan cantik itu melihatku, mereka berikan kabar gembira sambil berkata, ‘Demi Allah, suami bidadari ber-mata jeli itu udah tiba.’ Kemudian saya berkata, ‘Assalamu ‘alaikunna, apakah di antara kalian ada bidadari bermata jeli?’ Pelayan cantik itu menjawab, ‘Tidak, kami hanya pelayan dan pembantu bidadari bermata jeli. Silahkan terus!’

Aku pun meneruskan maju mengikuti perintahnya, saya tiba di sebuah sungai yang mengalir air susu, tidak berubah warna dan rasanya, berada di sebuah taman dengan beragam perhiasan. Di dalamnya juga terkandung pelayan bidadari cantik dengan mengenakan beragam perhiasan. Begitu saya memandang mereka saya terpesona. Ketika mereka melihatku mereka berikan kabar gembira dan berkata kepadaku, ‘Demi Allah udah mampir suami bidadari bermata jeli.’ Aku bertanya, ‘Assalamualaikunna, apakah di antara kalian ada bidadari bermata jeli?’ Mereka menjawab, Waalaikassalam wahai waliyullah, kami ini hanya budak dan pelayan bidadari bermata jeli, silakan terus.’

Aku pun meneruskan maju, ternyata saya berada di sebuah sungai khamr berada di pinggir lembah, di sana terkandung bidadari-bidadari amat cantik yang memicu saya lupa dengan kecantikan bidadari-bidadari yang udah saya lewati sebelumnya. Aku berkata, ‘Assalamu alaikunna, apakah di antara kalian ada bidadari bermata jeli?’ Mereka menjawab, ‘Tidak, kami hanya pembantu dan pelayan bidadari bermata jeli, silakan maju ke depan.’

Aku berjalan maju, saya tiba di sebuah sungai yang mengalirkan madu asli di sebuah taman dengan bidadari-bidadari amat cantik berkilauan wajahnya dan amat jelita, memicu saya lupa dengan kecantikan para bidadari sebelumnya. Aku bertanya, ‘Assalamu alaikunna, apakah di antara kalian ada bidadari bermata jeli?’ Mereka menjawab, ‘Wahai waliyurrahman, kami ini pembantu dan pelayan bidadari jelita, silakan maju lagi.’

Aku berjalan maju mengikuti perintahnya, saya tiba di se-buah tenda terbuat berasal dari mutiara yang dilubangi, di depan tenda terkandung seorang bidadari cantik dengan kenakan pakaian dan perhiasan yang saya sendiri tidak bisa mengungkapka keindahannya. Begitu bidadari itu melihatku dia berikan kabar gembira kepadaku dan memanggil berasal dari arah tenda, ‘Wahai bidadari bermata jeli, suamimu datang!’

Kemudian saya mendekati kemah selanjutnya lalu masuk. Aku mendapati bidadari itu duduk di atas ranjang yang terbuat berasal dari emas, bertahta intan dan berlian. Begitu saya melihatnya saya terpesona pas itu dia menyambutku dengan berkata, ‘Selamat mampir waliyurrahman, udah hampir tiba pas kami bertemu.’ Aku pun maju untuk memeluknya, tiba-tiba ia berkata, ‘Sebentar, belum saatnya engkau memelukku dikarenakan di dalam tubuhmu masih ada ruh kehidupan. Tenanglah, engkau akan berbuka puasa bersamaku di kediamanku, insya Allah. ‘

Seketika itu saya bangun berasal dari tidurku wahai Abdul Wahid. Kini saya udah tidak bersabar lagi, idamkan bertemu dengan bida-dari bermata jeli itu.”

Abdul Wahid menuturkan, “Belum kembali obrolan kami (cerita perihal mimpi) selesai, kami mendengar pasukan musuh udah merasa menyerang kami, maka kami pun bergegas meng-angkat senjata begitu juga Laki-laki itu.

Setelah peperangan berakhir, kami mengkalkulasi kuantitas para korban, kami menemukan 9 orang musuh tewas dibunuh oleh Laki-laki itu, dan ia adalah orang ke sepuluh yang terbunuh. Ketika saya melintas di dekat jenazahnya saya lihat, tubuhnya berlu-muran darah pas bibirnya tersenyum yang mengantarkan pada akhir hidupnya.”

Kesimpulan
Sekian pembahasan lengkap mengenai kisah cinta bidadari surga, 72 bidadari di surga islam, cantiknya bidadari surga, bidadari dalam islam, bidadari surga lirik, bidadari lagu, bidadari adalah, hadits ainul mardhiah palsu, bidadari sinetron.

Baca:

Posting Komentar untuk "Kisah Cinta Bidadari Surga dan Manusia Bumi"